Selasa, 27 Desember 2016



BAB I

PENDAHULUAN

1.1.            Latar Belakang

Ilmu Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomeia, yang merupakan gabungan kata, yaitu oikos artinya rumah tangga dan nomos artinya aturan atau norma atau hukum. Sehingga kata ekonomi secara etimologi adalah ekonomi atau oikonomeia berarti ilmu yang mengatur rumah tangga. Ilmu ekonomi ini dapat pula dihubungkan dengan sejalannya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal tersebut pengertian ilmu ekonomi pun mengalami pergeseran dengan pemahaman ekonomi adalah suatu usaha untuk mencapai suatu kemakmuran dalam suatu masyarakat sesuai dengan harapan (Winardi, 1979).
Dalam prakteknya, perencanaan wilayah dan kota meliputi elemen fisik dan nonfisik, untuk elemen nonfisik membutuhkan analisis yang tidak dapat terlepas dari disiplin ilmu ekonomi, karena dalam pengembangan suatu wilayah tidak hanya melihat hasil jadinya, melainkan juga bagaimana proses yang bermain di dalamnya, sebagai contoh analisis yang dilakukan adalah analisis indikator pengembangan ekonomi di suatu wilayah. Penerapan ilmu ekonomi yang optimal dalam proses perencanaan  suatu wilayah membantu pembangunan wilayah tersebut karena bertambahnya pendapatan daerah tersebut.
Di dalam perencanaan pembangunan ekonomi, untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu daerah memerlukan data-data statistik sebagai dasar penentuan strategi, pengambilan keputusan dan evaluasi hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan melakukan perhitungan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). PDRB adalah total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah (regional) tertentu dalam waktu tertentu biasanya dalam satu wilayah. Besar kecilnya angka PDRB suatu daerah dipengaruhi oleh tersedianya potensi sumber daya alam dan faktor-faktor produksi yang berhasil dimanfaatkan. Sehingga dengan adanya berbagai keterbatasan dalam mengelola dan memanfaatkan faktor-faktor tersebut, menyebabkan besaran PDRB antara wilayah satu dengan lainnya sangat bervariasi. Seperti halnya dengan PDRB Kabupaten Rokan, untuk mengetahui indikator perkembangan ekonomi makro terutama PDRB di provinsi tersebut, maka dilakukan analisis PDRB dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (Tahun 2004-2013).

1.2.            Perumusan Masalah

Upaya untuk mengetahui nilai dan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu daerah adalah dengan mengetahui sektor perekonomian semua wilayah pada satu kabupaten. Untuk itu perlu dikaji bagaimana konstribusi tiap sektor ekonomi terutama PDRB di Kabupaten Rokan Hulu.

1.3.1    Tujuan

Dalam laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan hasil data PDRB di wilayah studi yaitu Kabupaten Rokan Hulu dalam bentuk grafik. Selanjutnya menganalisis data dan informasi dalam lingkup wilayah studi dalam kajian perencanaan wilayah dan kota.

1.3.2    Sasaran

Sasaran laporan ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan dan menganalisis aspek-aspek yang termasuk dalam indikator ekonomi makro dari Kabupaten Rokan Hulu. Sehingga dapat mengetahui potensi dalam sektor ekonomi yang dapat diasah di masa yang akan datang. Adapun sasaran dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
§  Mengamati dan mengidentifikasikan indikator ekonomi makro yaitu dalam hal ini adalah PDRB  di Kabupaten Rokan Hulu pada instansi resmi BPS maupun dari sumber data lainnya.
§  Mendeskripsikan dan menganalisis data-data dan informasi yang telah didapat berdasarkan ligkup kajian ilmu ekonomi.


BAB II

PENDEKATAN DAN METODE PERHITUNGAN

2.1.      Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

Produk Domestik Regional Bruto atau disingkat dengan PDRB adalah total nilai produki barang dan jasa yang diproduksi di wilayah atau regional tertentu dalam kurun waktu tertentu yang biasanya selama per satu tahun. Disebutkan bahwa besaran PDRB dapat dihitung melalui pengukuran arus sirkulasi (circular flow), dan pengukurannya dapat dibedakan menjadi tiga cara yaitu :
1.         Metode total keluaran (total-output method)
2.         Metode pengeluaran atar keluaran (spending-on-output method)
3.         Metode pendapatan dari produksi (income from-production method)

2.1.1    Pembagian PDRB

Penghitungan PDRB menggunakan dua macam harga yaitu harga berlaku dan harga konstan yang didasarkan pada tahun tertentu.
1.    PDRB ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku)
PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung menggunakan harga pada tahun berjalan atau harga yang terjadi setiap tahunnya.
2.    PDRB ADHK (Atas Dasar Harga Konstan)
PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar, dan dalam penghitungan PDRB tahun terakhir masih menggunakan tahun dasar 2000.

2.1.2        Ukuran-Ukuran PDRB

PDRB dapat diturunkan ke dalam  ukuran-ukuran penting lainnya, yaitu:
1.         Produk Regional Bruto
       Merupakan produk domestik regional bruto ditambah dengan pendapatan neto dari luar propinsi. Pendapatan neto ini sendiri merupakan pendapatan atas faktor produksi (tenaga kerja dan modal) milik penduduk suatu propinsi yang diterima dari luar propinsi dikurangi pendapatan propinsi lain/asing yang diperolah di propinsi tersebut.

2.         Produk Regional Netto
       Merupakan produk regional bruto dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang modal tetap selama setahun.
3.         Produk Regional Bruto atas dasar biaya faktor produksi (pendapatan regional) Adalah produk regional netto atas dasar harga pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung netto. Pajak tidak langsung netto merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi subsidi pemerintah. Pajak tidak langsung maupun subsidi,keduanya dikenakan pada barang dan jasa yang diproduksi atau dijual. Pajak tidak langsung bersifat menaikkan harga jual. Sedangkan subsidi adalah kebalikkannya.
4.         Angka-angka perkapita
       Adalah ukuran-ukuran indikator ekonomi seperti pada butir-butir diatas dibagi jumlah penduduk pertengahan tahun.

2.2.            Pendekatan Perhitungan Pendapatan Regional

Untuk mengukur PDRB yang terjadi ada 3 (tiga) pendekatan yang biasa digunakan, yaitu pendekatan produksi, pendapatan, pengeluaran, dan metode alokasi.

2.2.1        Pendekatan Produksi (Production Approach)

Pendekatan Produksi Pendekatan ini disebut juga pendekatan nilai tambah dimana Nilai Tambah Bruto (NTB) diperoleh dengan cara mengurangkan nilai output yang dihasilkan oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara dari masing-masing nilai produksi bruto tiap sektor ekonomi. Nilai tambah merupakan nilai yang ditambahkan pada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas jasa faktor produksi atas ikut sertanya dalam proses produksi.

2.2.2        Pendekatan Pendapatan (Income Approach)

Pada pendekatan ini, nilai tambah dari kegiatan-kegiatan ekonomi dihitung dengan cara menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaitu upah dan gaji, surplus usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Untuk sektor pemerintahan dan usaha-usaha yang sifatnya tidak mencari untung, surplus usaha antara lain bunga neto, sewa tanah dan keuntungan tidak diperhitungkan. 

2.2.3        Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)

Pendekatan ini digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai golongan dalam masyarakat untuk keperluan konsumsi rumah tangga,pemerintah dan yayasan sosial, pembentukan modal, dan ekspor. Mengingat nilai barangdan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total pengeluaran dari komponen-komponen di atas harus dikurangi nilai impor sehingga nilai ekspor yang dimaksud adalahekspor neto. Penjumlahan seluruh komponen pengeluaran akhir ini disebut PDRB atasdasar harga pasar.

2.2.4        Metode Alokasi (Alocation Method)

Metode ini digunakan jika data suatu unit produksi di suatu daerah tidak tersedia. Nilai tambah suatu unit produksi di daerah tersebut dihitung dengan menggunakan data yang telah dialokasikan dari sumber yang tingkatannya lebih tinggi, misalnya data suatu kabupaten diperoleh dari alokasi data provinsi. Beberapa alokator yang dapat digunakan adalah nilai produksi bruto atau neto, jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk, dan alokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai suatu unit produksi.
Metode AlokasiMetode ini digunakan jika data suatu unit produksi di suatu daerah tidak tersedia. Nilaitambah suatu unit produksi di daerah tersebut dihitung dengan menggunakan data yangtelah dialokasikan dari sumber yang tingkatannya lebih tinggi, misalnya data suatukabupaten diperoleh dari alokasi data provinsi. Beberapa alokator yang dapat digunakanadalah nilai produksi bruto atau neto, jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk, danalokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai suatu unit produksi

2.3.              Cara Penilaian Harga Konstan

2.3.1          Penyajian Atas Dasar Harga Konstan

Salah satu kegunaan Pendapatan Regional menurut penggunaan ialah untuk melihat perkembangan penggunaan PDRB dari tahun ke tahun. Karena adanya pengaruh inflasi, maka daya beli uang akan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berkaitan dengan hal tersebut apakah kenaikan pendapatan seseorang benar-benar naik atau tidak maka faktor inflasi initer lebih dahulu harus dieliminir dari pendapatan. Setelah faktor inflasi dieliminir, maka pendapatan yang dihasilkan akan merupakan pendapatan yang riil (real income), hingga naik turunnya pendapatan riil ini akan mencerminkan naik turunnya daya beli.
Pendapatan Regional yang masih mengandung faktor inflasi disebut pendapatan regional atas dasar harga yang berlaku (at current prices). Apabila faktor inflasi sudah dieliminir, pandapatan regional disebut pendapatan regional atas dasar harga konstan (at constant prices). Untuk mendapatkan nilai atas dasar harga konstan, ada tiga metode dasar yang dapat dipakai yaitu :
1.      Revaluasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengalikan kuantum produksi pada tahun yang bersangkutan dengan harga pada tahun dasar. Begitu juga biaya-biaya antara dinilai dengan memakai harga pada tahun dasar pula. Dalam praktek, sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan, karena mencakup komponen biaya antara yangsangat banyak, di samping data harga yang tersedia tidak dapat memenuhi semua keperluan tersebut. Oleh karena itu, biaya antara atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara output atas dasar harga konstan masing-masing tahun dengan rasio tetap pada biaya antara terhadap output pada tahun dasar.
2.      Ekstrapolasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengekstrapolasikan nilai tambah pada tahun dasar dengan menggunakan indeks kuantum dari barang-barang produksi yang bersangkutan. Bila terdapat kesulitan dalam memperoleh indeks kuantum dapat dipakai indikator lain yang ada hubungannya dengan indeks kuantum produksi itu, misalnya indeks tenaga kerja di bidang itu, indeks kuantum dari input yang dipakai, dan sebagainya. Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap output atas dasarharga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga konstan.
3.      Deflasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga yang berlaku dengan indeks harga dari barang-barang yang bersangkutan. Indeks harga di sini dapat dipakai indeks harga perdagangan besar, harga produsen maupun harga eceran tergantung mana yang lebih sesuai. Perkiraan nilai tambah PDRB penggunaan atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dengan cara mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga berlaku dengan indeks harga yang sesuai. Misalnya indeks harga yang sesuai untuk masing-masing komponen tersebut adalah indeks harga konsumen untuk konsumsi rumah tangga, indeks harga perdagangan besar untuk konsumsi pemerintah dan perdagangan antar daerah, dan indeks harga perdagangan besar barang-barang investasi untuk pembentukan modal tetap bruto.
4.      Deflasi Berganda

2.4.            Manfaat Statistik Pendapatan Regional

PDRB yang disajikan secara berkala dapat menggambarkan perkembangan ekonomi suatu daerah dan juga dapat digunakan sebagai bahan acuan dalam mengevaluasi dan merencanakan pembangunan regional. PDRB atas dasar harga konstan menggambarkan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu daerah baik secara agregat maupun sektoral. Struktur perekonomian suatu daerah dapat dilihat dari distribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap total nilai PDRB atas dasar harga berlaku.
Selain itu, pendapatan per kapita yang diperoleh dari perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah penduduk pada tahun bersangkutan dapat digunakan untuk membanding tingkat kemakmuran suatu daerah dengan daerah lainnya. Perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku terhadap PDRB atas dasar harga konstan dapat juga digunakan untuk melihat tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Regional yang disajikan secara berkala akan dapat diketahui:
a. Tingkat pertumbuhan ekonomi
b. Gambaran struktur perekonomian
c. Perkembangan pendapatan per kapita
d. Tingkat kemakmuran masyarakat
e. Tingkat inflasi dan deflasi
Statistik pendapatan regional yang disajikan dengan baik dan lengkap akan dapat menggambarkan berbagai fenomena antara lain :
1.        Produk domestik regional bruto yang disajikan atas dasar harga konstan, akan menggambarkan tingkat pertumbuhan riil perekonomian suatu daerah baik secara agregat maupun sektoral.
2.        Pertumbuhan perekonomian yang timbul tersebut apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk masing-masing tahun, maka akan dapat pula mencerminkan tingkat perkembangan pendapatan per kapita. Jika pendapatan per kapita suatu daerah dibandingkan dengan pendapatan per kapita daerah lain, maka angka-angka tersebut dapat dipakai sebagai indikator untuk membandingkan tingkat kemakmuran material dengan daerah lainnya.
3.        Penyajian Produk Domestik Regional Bruto baik atas dasar harga berlaku maupun atas dasar harga konstan, juga dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat inflasi ataupun deflasi yang terjadi. Demikian pula apabila disajikan secara sektoral akan dapat juga memberi gambaran tentang struktur perekonomian suatu daerah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa Pendapatan Regional yang disajikan secara berkala, wajar, dan komprehensif akan diketahui :
a)         Indikator tingkat pertumbuhan perekonomian.
b)        Indikator tingkat perkembangan pendapatan per kapita.
c)         Indikator tingkat kemakmuran masyarakat.
d)        Indikator tingkat inflasi dan deflasi.
 Indikator dari struktur perekonomian suatu daerah.Lebih khusus untuk penyajian PDRB dari sisi penggunaan akan diketahui :
a)         Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang dibelanjakankembali dalam perekonomian wilayah tersebut.
b)        Besarnya pendapatan (nilai tambah) suatu wilayah yang diinvestasikankembali dalam perekonomian wilayah tersebut.
c)         Besarnya pembiayaan transaksi antar wilayah dan antar negara.
d)        Tingkat persediaan barang setengah jadi maupun barang jadi yangdikuasai oleh berbagai pelaku ekonomi produksi maupun konsumsi.



BAB III

GAMBARAN UMUM KABUPATEN ROKAN HULU

3.1.            Aspek Fisik

Informasi dari aspek fisik Kabupaten Rokan Hulu sebagai berikut :

3.1.1        Luas dan Letak Wilayah

Luas dan batas wilayah, Kabupaten Rokan Hulu dengan luas wilayah 7.449.85 km². Secara administratif Kabupaten Rokan Hulu terbagi menjadi 16 Kecamatan. 16 Kecamatan itu yaitu : Bangun Purba, Kabun, Kepenuhan, Kunto Darussalam, Rambah, Rambah Hilir, Rambah Samo, Rokan IV Kto, Tambusai, Tambusai Utara, Tandun, Ujung Batu, Pagaran Tapah Darussalam, Bonai Darussalam, Kepenuhan Hulu, Pendalian IV Koto,
Letak dan kondisi geografis dari Kabupaten Rokan Hulu memiliki posisi astronomi di antara garis 00°25'20 - 010°25'41 Lintang Utara
1000°02'56 - 1000°56'59 Bujur Timur
. Adapun batas wilayah administratif Kabupaten Rokan Hulu adalah sebagai berikut :
Barat               : Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat
Timur               : Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Rokan Hilir
Selatan                        : Kabupaten Kampar
Utara               : Kabupaten Padang Lawar Utara dan Kabupaten Labuhan Batu
Di kabupaten Rokan Hulu terdapat beberapa sungai, 2 diantaranya adalah sungai yang cukup besar yaitu Sungai Rokan Kanan dan Sungai Rokan Kiri. Selain sungai besar tersebut, terdapat juga sungai-sungai kecil antara lain Sungai Tapung, Sungai Dantau, Sungai Ngaso, Sungai Batang Lubuh, Sungai Batang Sosa, Sungai Batang Kumu, Sungai Duo (Langkut), dan lain-lain.

3.1.2        Keadaan Alam

            Kabupaten Rokan Hulu memiliki wilayah yang terdiri dari 85% daratan dan 15% daerah perairan dan rawa. Kabupaten yang ber ibukotakan Pasir Pengaraian ini, berada pada jalan Negara  Provinsi Riau- Sumatera Utara, tepatnya jalan Pekanbaru – Padang Lawas Sumatera Utara, yang berjarak lebih kurang 180 Km dari Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Daerah ini berada pada ketinggian 70 – 80 meter dari permukaan laut. Disebelah barat Kabupaten mempunyai kontur tanah yang bergelombang ini merupakan bagian pegunungan Bukit Barisan ( 15 % ) sedangkan sebagian besar lainnya ( 85 % ) merupakan dataran rendah yang subur. Di daerah ini terdapat 3 ( tiga ) buah sungai besar yaitu Rokan Kiri, Rokan Kanan dan Sungai Sosah.
Kabupaten Rokan Hulu tergolong daerah beriklim tropis dengan tempratur udara berkisar antara 22° - 31° C, terdapat dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan dilihat dari sisi Penduduknya, kabupaten ini,  merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari  bermacam suku dan ragam budaya, sebagian besar suku yang ada di Rokan Hulu adalah Suku Jawa (eks transmigrasi tahun 1980), melayu dan mandailing sebagai penduduk asal, di lengkapi dengan suku minang, sunda, batak  dan nias.Selain itu di Rokan Hulu terdapat masyarakat terasing yaitu suku Bonai dan suku sakai, yang merupakan asli Rokan Hulu.

3.2.            Kependudukan

Jumlah penduduk kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2010 adalah 475.011 jiwa. Mayoritas penduduk asli kabupaten Rokan Hulu adalah termasuk salah satu bagian dari Rumpun Minangkabau. Menurut sejarahnya, dahulu daerah Rokan Hulu disebut Rantau Rokan atau Luhak Rokan Hulu karena merupakan daerah perantauan orang-orang Minangkabau pada masa lalu (Rantau nan Tigo Jurai). Pada masa itu diistilahkan sebagai ‘Rantau Nan Tigo Kabuang Aie’ yakni Rantau Timur Minangkabau di sekitar Kampar dan Kuantan sekarang. Daerah-daerah tersebut meliputi daerah alur sungai menuju hilir dari sungai-sungai besar yang mengalir ke Pesisir Timur. Diantaranya adalah Sungai Rokan, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), yang kini kesemuanya masuk di dalam Provinsi Riau. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Rokan Hulu menggunakan adat istiadat dan bahasa Minangkabau. Utamanya mirip dengan daerah Rao dan Pasaman di Provinsi Sumatera Barat dengan Persukuan, Molayu/Melayu, Kandang Kopuah, Bonuo, Ampu, Pungkuik, Moniliang/Mandahiliang, Kuti, Caniago, Piliang, Domo, Potopang/Petopang, Maih, Soborang, Anak Rajo-rajo, Non Soatuih, Non Limo Puluh, Molayu Tigo Induk, Molayu Panjang, Molayu Tongah, Ompek Induk, Molayu Bosa, Bono Ampu, Molayu Ompek Induk, Molayu Pokomo, Piliang Kecil, Domo Kecil, Molayu Kecil, Molayu Bawah, Molayu Bukik, Aliantan, Suku Tengku Panglimo Bosa, Suku Maharajo Rokan, Suku Tengku Bosa, Suku Maharajo, dan Bendang.
Di sekitar daerah perbatasan bagian Timur dan Tenggara, bermukim pula sedikit Suku Melayu yang memiliki adat istiadat dan bahasa daerah mirip dengan tetangganya di Rokan Hilir dan Bengkalis. Namun di sekitar Rokan Hulu sebelah Utara dan Barat Daya, ditemukan penduduk asli yang memiliki kedekatan sejarah dengan etnis Rumpun Batak di daerah Padang Lawas di Provinsi Sumatera Utara. Mereka telah mengalami proses Melayunisasi sejak berabad yang lampau, dan tidak banyak meninggalkan jejak sejarah untuk ditelusuri. Mereka umumnya mengaku sebagai orang Melayu.
Selain itu juga banyak penduduk bersuku Jawa yang datang lewat program transmigrasi nasional sejak masa kemerdekaan maupun keturunan para perambah hutan asal Jawa yang masuk pada masa penjajahan lewat Sumatera Timur. Mereka tersebar di seluruh wilayah Rokan Hulu, terutama di sentra-sentra lokasi transmigrasi dan juga di areal perkebunan sebagai tenaga buruh. Juga banyak bermukim para pendatang asal Sumatera Utara bersuku Batak yang umumnya bekerja di sektor jasa informal dan perkebunan. Di daerah-daerah perniagaan ditemukan banyak penduduk pendatang bersuku Minangkabau asal Sumatera Barat yang umumnya bekerja sebagai pedagang. Selain itu juga didapati berbagai etnis Indonesia lainnya yang masuk kemudian sebagai pendatang. Pada umumnya mereka bekerja sebagai buruh pada sektor perkebunan.

BAB IV

ANALISIS EKONOMI KABUPATEN ROKAN HULU

4.1.            Perkembangan Total PRDB Kabupaten Rokan Hulu

PDRB adalah salah satu indikator untuk melihat keberhasilan pembangunan ekonomi. PDRB merupakan hasil penjumlahan nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh unit-unit kegiatan ekonomi dalam suatu wilayah pada suatu periode waktu tertentu biasanya satu tahun. Dalam kurun waktu 2004-2013 PDRB Kabupaten Rokan Hulu tetap beranjak naik. Untuk mengetahui Perkembangan PDRB Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2004-2013 dapat dilihat sebagai berikut :

Tabel IV.1
Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2005-2009
Tahun
PDRB
persentase
2004
         2,051,635.4
                7.96 %
2005
         2,108,279.1
                8.18 %
2006
         2,257,614.3
                8.76 %
2007
         2,271,851.1
                8.81 %
2008
         2,426,330.4
                9.41 %
2009
         2,570,658.4
                9.97 %
2010
         2,706,742.4
              10.50 %
2011
         2,948,658.9
              11.44 %
2012
         3,120,525.5
              12.10 %
2013
         3,323,170.1
              12.89 %
total
       25,785,465.7
            100.00 %

PDRB Kabupaten Rokan Hulu setiap tahunnya mengalami peningkatan, pada tahun 2004 atas dasar harga konstan yaitu Rp2,051,635.4 dengan persentase 7.96% dan pada tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 2,108,279.1 atau 8.18%. Peningkatan ini terjadi pada tiap tahun sampai pada tahun 2013 yaitu Rp3,323,170,1 atau sebesar 12,89%.
Gambar 4.1
Perkembangan Total PDRB Kabupaten Rokan Hulu
Berdasarkan pada gambar di atas, menjelaskan bahwa perkembangan total PDRB Kabupaten Rokan Hulu dari tahun 2004 sampai tahun 2013 terus meningkat. Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Perkembangan total PDRB Kabupaten Rokan Hulu ini tidak terlepas dengan adanya peningkatan PDRB di masing-masing sektor.

4.2.            Laju Pertumbuhan Ekonomi

            Pertumbuhan ekonomi disamping dapat berdampak peningkatan pendapatan pada akhirnya juga akan berpengaruh pada pendapatan daerah. Semakin mampu menggali potensi perekonomian daerah yang ada, akan semakin besar Produk Domestik Regional Bruto dan Pendapatan Asli Daerah, sehingga mampu meningkatkan keuangan daerah dalam menunjang pelaksanaan otonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu gambaran mengenai dampak dari kebijaksanaan pembangunan yang telah diambil khususnya dalam bidang ekonomi. Bagi setiap daerah, indikator ini penting untuk mengetahui keberhasilan pembangunan yang telah dicapai, dan berguna sebagai bahan untuk menentukan kebijaksanaan dan arah pembangunan dimasa yang akan datang. Pertumbuhan tersebut merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari berbagai sektor ekonomi, yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat perubahan ekonomi yang terjadi. Untuk mengetahui Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel IV.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2004-2013
Tahun
pertumbuhan ekonomi
2004
2%
2005
3%
2006
7%
2007
1%
2008
6%
2009
6%
2010
5%
2011
8%
2012
6%
2013
6%


Gambar 4.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu
Dapat dilihat dari tabel maupun gambar yang ada di atas bahwa, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rokan Hulu mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2004 sampai 2006 laju pertumbuha ekonomi meningkat. Namun, pada tahun 2007 laju pertumbuhan ekonomi menurun tajam mencapai 0,6%. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2007, PDRBnya hanya mengalami kenaikan yang kecil dari tahun 2006, ini terjadi pada semua sektor di tahun 2007, sehingga diperoleh selisih PDRB yang kecil. Pada tahun 2008 mengalami peningkatan menjadi 6,4%, lalu pada tahun 2009 dan tahun 2010 turun lagi  menjadi 5%. Pada tahun 2011 laju pertumbuhan ekonomi mengalami penaikan puncaknya yaitu 8,2%. Kemudian di tahun 2012 turun 5,5% dan naik lagi 6,1% ditahun 2013.


3.1.3        Struktur Ekonomi Atas Dasar Konstan Kabupaten Rokan Hulu

Untuk mengetahui Struktur Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu Dasar Harga Konstan tahun 2004-2013 dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel IV.3
Struktur Ekonomi Kabupaten Rokan hulu Atas Dasar Harga Konstan tahun 2004-2009

Sektor
2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
Pertanian
51.33
52.58
53.54
53.2
52.78
52.5
52.65
51.58
51.7
48.5
Pertambangan dan penggalian
8.75
8.52
7.95
7.9
7.7
7.37
6.12
7.3
5.86
6.64
Industri pengolahan
19.96
19.48
18.2
18.26
18.25
18.35
18.51
18.59
19.34
21.3
Listrik, Gas dan Air minum
0.06
0.06
0.06
0.06
0.06
0.06
0.06
0.05
0.05
0.06
Bangunan
3.56
3.46
3.5
3.48
3.76
3.85
4.34
4.2
4.28
4.19
Perdagana , Hotel dan Restoran
5.37
5.23
4.99
4.97
4.99
5.1
5.24
5.16
5.36
5.37
Pengangkutan dan Komunikasi
2.5
2.43
2.28
2.61
2.67
2.73
2.82
2.88
2.86
2.77
Keuangan, Persewaan dan Jasa
1.63
1.58
1.49
1.49
1.52
1.56
1.6
1.63
1.7
2.09
Jasa-jasa
6.84
6.66
7.99
8.03
8.27
8.48
8.66
8.61
8.85
9.02
PDRB
100
100
100
100
100
100
100
100
100
100


Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2004
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2004 yang paling besar adalah pertanian sebesar 51.% dan struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2005
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2006 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2006
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2006 yang paling besar adalah pertanian yaitu 54% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2007
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2007 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2008
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2008 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.


Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2009
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2009 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2010
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2009 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2011
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2011 yang paling besar adalah pertanian yaitu 51% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2012
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2012 yang paling besar adalah pertanian yaitu 52% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2013
Pada gambar di atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2013 yang paling besar adalah pertanian yaitu 52% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Sektor Ekonomi Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2003 sampai 2013, sektor yang perannya meningkat paling besar adalah pertanian dan yang perannya paling kecil adalah  sektor listrik, gas dan air minum.

4.3.            Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu

PDRB perkapita merupakan gambaran nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh masing–masing penduduk akibat dari adanya aktivitas ekonomi. Nilainya diperoleh dari PDRB dibagi dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Sedang pendapatan perkapita merupakan gambaran rata–rata pendapatan yang diterima oleh masing–masing penduduk karena andilnya dalam proses produksi. Nilai pendapatan perkapita ini diperoleh dengan cara membagi pendapatan regional (nilai PDRB yang telah dikurangi dengan penyusutan dan pajak tak langsung) dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Kedua indikator ini digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah dalam periode tahun tertentu. Walaupun nilai PDRB perkapita dan pendapatan perkapita dapat dijadikan ukuran kemakmuran suatu daerah, akan tetapi data tersebut tidak dapat digunakan untuk mengukur tingkat pemerataan pendapatan karena pada dasarnya pemilik pendapatan tersebut adalah mereka yang memiliki faktor produksi. Untuk mengetahui Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu dari tahun 2004 sampai 2013 dapat dilihat sebagai berikut:

Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu dari tahun 2004-2012
Tahun
PDRB
Penduduk
pendapatan perkapita
2004
   2,051,635.35
      398,720
5.15
2005
   2,108,279.08
      401,425
5.25
2006
   2,257,614.32
      406,302
5.56
2007
   2,271,851.09
      428,719
5.30
2008
   2,426,330.44
      452,251
5.37
2009
   2,570,658.39
      474,457
5.42
2010
   2,706,742.43
      501,584
5.40
2011
   2,948,658.93
      507,079
5.81
2012
   3,120,525.54
      523,024
5.97
2013
   3,323,170.13
      545,483
6.09


Pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan, Bila pada tahun 2004 adalah sebesar 5.15 dan pada tahun 2013 mencapai 6.09

Dari grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan perkapita sejajar dengan PDRB suatu daerah. Jadi jika PDRB naik pendapatan perkapita juga naik, dan jika PDRB turun maka pendapatan perkapita juga turun.
BAB V

PENUTUP


5.1.            Kesimpulan

PDRB merupakan salah satu indikator untuk menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi pada suatu kawasan atau daerah. Pada dasarnya dengan mengetahui laju pertumbuhan penduduk, struktur ekonomi, dan pendapatan perkapita penduduk juga mampu memprediksi dan mengetahui PDRB suatu wilayah..
Berdasarkan hasil data PDRB Kabupaten Rokan Hulu 2004 Produk Domestik Regional Bruto terus mengalami peningkatan. Nilai yang ditunjukkan adalah dari  tahun 2004 sebesar Rp    2,051,635.35 dan pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp 3,323,170.13 . Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Rokan Hulu mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi yang cukup berarti selama jangka waktu 10tahun.
Sektor ekonomi di Kabupaten Rokan Hulu yaitu sektor perekonomian merupakan sektor yang paling besar dalam menyumbangkan nilai PDRB.. Sektor pertanian dari tahun 2003 sampai 2014 yang paling besar perannya adalah pada tahun 2005.
Secara keseluruhan kinerja perekonomian Kabupaten Rokan Hulu semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini antara lain dapat dilihat dari pendapatan domestik regional bruto Kabupaten Rokan Hulu baik atas dasar harga yang berlaku maupun atas dasar harga konstan 2003 yang makin meningkat dari tahun ke tahun.

5.2.                          Saran

            Berdasarkan hasil analisis dan kesimpulan didapatkan beberapa saran yang diperuntukan untuk ke depannya Kabupaten Rokan Hulu, yaitu  antara lain dalam meningkatkan pertumbuhan perekonomian Kabupaten Rokan Hulu, perlu memperhatikan dan mengembangkan sektor dan struktur ekonomi lainnya yang dapat lebih memunculkan potensi-potensi daerahnya sehingga dapat memperkuat PDRB Kabupaten Rokan Hulu. Misalnya, Kabupaten Rokan Hulu hanya menonjol pada sektor pertanian. Seharusnya sektor ekonomi industri dan sektor-sektor lain juga perlu lebih dioptimalkan lagi guna meningkatkan laju pertumbuhan penduduk. Sehingga PDRB Kabupaten Rokan Hulu dapat juga meningkat.
Selain itu Pemerintah Daerah hendaknya lebih mengoptimalkan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Rokan Hulu yang mengalami penyusutan, penurunan, dan kurang berkembang, agar dapat memperkuat PDRBnya. Sehingga perlunya koordinasi dan kerjasama yang sinergis antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu untuk lebih meningkatkan perkembangan PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi.


DAFTAR PUSTAKA.

Badan Pusat Statistik. 2010. Kota Semarang dalam Angka 2010. Semarang.
BAPPEDA. 2010. “Pekanbaru dalam Angka 2010,” dalam website bappeda. http://bappeda.pekanbaru.go.id/artikel/9/mengapa-pdrb-/page/1/2010. Diunduh Selasa, 3 Juli 2012.
Master Plan Transportasi Laut. 2011. “Proposal Teknis Penyusunan Masterplan Transportasi Laut Provinsi Kepulauan Riau.” Proposal Master Plan Kepulauan Riau.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar