BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Ilmu Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu oikonomeia, yang merupakan gabungan kata, yaitu oikos artinya rumah tangga dan nomos artinya aturan atau norma atau hukum. Sehingga kata
ekonomi secara etimologi adalah ekonomi atau oikonomeia berarti ilmu yang
mengatur rumah tangga. Ilmu ekonomi ini dapat pula dihubungkan dengan
sejalannya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dari hal tersebut
pengertian ilmu ekonomi pun mengalami pergeseran dengan pemahaman ekonomi
adalah suatu usaha untuk mencapai suatu kemakmuran dalam suatu masyarakat
sesuai dengan harapan (Winardi, 1979).
Dalam prakteknya, perencanaan wilayah dan kota meliputi elemen fisik dan
nonfisik, untuk elemen nonfisik membutuhkan analisis yang tidak dapat terlepas
dari disiplin ilmu ekonomi, karena dalam pengembangan suatu wilayah tidak hanya
melihat hasil jadinya, melainkan juga bagaimana proses yang bermain di dalamnya, sebagai contoh analisis yang dilakukan
adalah analisis indikator pengembangan ekonomi di suatu wilayah. Penerapan ilmu
ekonomi yang optimal dalam proses perencanaan
suatu wilayah membantu pembangunan wilayah tersebut karena bertambahnya
pendapatan daerah tersebut.
Di dalam perencanaan pembangunan
ekonomi, untuk mengukur pertumbuhan ekonomi suatu daerah memerlukan data-data
statistik sebagai dasar penentuan strategi, pengambilan keputusan dan evaluasi
hasil-hasil pembangunan yang telah dicapai. Salah satu cara yang digunakan
adalah dengan melakukan perhitungan PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). PDRB
adalah total nilai produksi barang dan jasa yang diproduksi di suatu wilayah
(regional) tertentu dalam waktu tertentu biasanya
dalam satu wilayah. Besar kecilnya angka PDRB suatu daerah dipengaruhi oleh
tersedianya potensi sumber daya alam dan faktor-faktor produksi yang berhasil
dimanfaatkan. Sehingga dengan adanya berbagai keterbatasan dalam mengelola dan
memanfaatkan faktor-faktor tersebut, menyebabkan besaran PDRB antara wilayah
satu dengan lainnya sangat bervariasi. Seperti halnya dengan PDRB Kabupaten Rokan, untuk mengetahui indikator perkembangan ekonomi makro
terutama PDRB di provinsi tersebut, maka dilakukan analisis
PDRB dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir (Tahun 2004-2013).
1.2. Perumusan Masalah
Upaya untuk mengetahui nilai dan tingkat pertumbuhan
perekonomian suatu daerah adalah dengan mengetahui sektor perekonomian semua
wilayah pada satu kabupaten. Untuk itu perlu dikaji bagaimana
konstribusi tiap sektor ekonomi terutama PDRB di
Kabupaten Rokan Hulu.
1.3.1 Tujuan
Dalam laporan ini bertujuan untuk mengidentifikasi
dan mendeskripsikan hasil data PDRB di
wilayah studi yaitu Kabupaten Rokan Hulu dalam bentuk grafik.
Selanjutnya menganalisis data dan informasi dalam lingkup wilayah studi dalam
kajian perencanaan wilayah dan kota.
1.3.2 Sasaran
Sasaran laporan ini adalah untuk mengidentifikasi, mendeskripsikan dan
menganalisis aspek-aspek yang termasuk dalam indikator ekonomi makro dari Kabupaten Rokan Hulu. Sehingga dapat mengetahui
potensi dalam sektor ekonomi yang dapat diasah di masa yang akan datang. Adapun
sasaran dalam laporan ini adalah sebagai berikut :
§ Mengamati dan mengidentifikasikan indikator
ekonomi makro yaitu dalam hal ini adalah PDRB
di Kabupaten Rokan Hulu pada instansi resmi BPS maupun dari sumber data
lainnya.
§ Mendeskripsikan dan menganalisis data-data dan
informasi yang telah didapat berdasarkan ligkup kajian ilmu ekonomi.
BAB
II
PENDEKATAN DAN METODE PERHITUNGAN
2.1. Pengertian Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
Produk Domestik Regional Bruto atau disingkat dengan PDRB
adalah total nilai produki barang dan jasa yang diproduksi di wilayah atau regional tertentu
dalam kurun waktu tertentu yang
biasanya selama per satu tahun. Disebutkan bahwa
besaran PDRB dapat dihitung melalui pengukuran arus sirkulasi (circular flow), dan pengukurannya dapat
dibedakan menjadi tiga cara yaitu :
1.
Metode
total keluaran (total-output method)
2.
Metode
pengeluaran atar keluaran (spending-on-output method)
3.
Metode
pendapatan dari produksi (income
from-production method)
2.1.1 Pembagian PDRB
Penghitungan PDRB menggunakan dua macam
harga yaitu harga berlaku dan harga konstan yang didasarkan pada tahun tertentu.
1. PDRB
ADHB (Atas Dasar Harga Berlaku)
PDRB yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa yang dihitung
menggunakan harga pada tahun berjalan atau harga yang terjadi setiap tahunnya.
2. PDRB
ADHK (Atas Dasar Harga Konstan)
PDRB
yang menggambarkan nilai tambah barang dan jasa tersebut yang dihitung
menggunakan harga pada satu tahun tertentu sebagai tahun dasar, dan dalam
penghitungan PDRB tahun terakhir masih menggunakan tahun dasar 2000.
2.1.2 Ukuran-Ukuran PDRB
PDRB dapat diturunkan ke
dalam ukuran-ukuran penting lainnya,
yaitu:
1.
Produk
Regional Bruto
Merupakan
produk domestik regional bruto ditambah dengan pendapatan neto dari luar propinsi. Pendapatan neto
ini sendiri merupakan pendapatan atas faktor produksi (tenaga kerja dan modal)
milik penduduk suatu propinsi yang diterima dari luar propinsi dikurangi pendapatan propinsi lain/asing yang diperolah di propinsi tersebut.
2.
Produk
Regional Netto
Merupakan
produk regional bruto dikurangi dengan seluruh penyusutan atas barang-barang
modal tetap selama setahun.
3.
Produk
Regional Bruto atas dasar biaya faktor produksi (pendapatan regional) Adalah produk regional netto atas dasar harga
pasar dikurangi dengan pajak tidak langsung netto. Pajak tidak langsung netto
merupakan pajak tidak langsung yang dipungut pemerintah dikurangi subsidi
pemerintah. Pajak tidak langsung maupun subsidi,keduanya dikenakan pada barang
dan jasa yang diproduksi atau dijual. Pajak tidak langsung bersifat menaikkan
harga jual. Sedangkan subsidi adalah kebalikkannya.
4.
Angka-angka
perkapita
Adalah ukuran-ukuran indikator ekonomi
seperti pada butir-butir diatas
dibagi jumlah penduduk pertengahan
tahun.
2.2. Pendekatan Perhitungan Pendapatan Regional
Untuk
mengukur PDRB yang terjadi ada 3 (tiga) pendekatan yang biasa digunakan, yaitu
pendekatan produksi, pendapatan, pengeluaran, dan metode alokasi.
2.2.1 Pendekatan Produksi (Production Approach)
Pendekatan
Produksi Pendekatan ini disebut juga pendekatan nilai tambah dimana Nilai
Tambah Bruto (NTB) diperoleh dengan cara mengurangkan nilai output yang dihasilkan
oleh seluruh kegiatan ekonomi dengan biaya antara dari masing-masing nilai
produksi bruto tiap sektor ekonomi. Nilai tambah merupakan nilai yang
ditambahkan pada barang dan jasa yang dipakai oleh unit produksi dalam proses
produksi sebagai input antara. Nilai yang ditambahkan ini sama dengan balas
jasa faktor produksi atas ikut sertanya dalam proses produksi.
2.2.2 Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
Pada
pendekatan ini, nilai tambah dari kegiatan-kegiatan ekonomi dihitung dengan
cara menjumlahkan semua balas jasa faktor produksi yaitu upah dan gaji, surplus
usaha, penyusutan dan pajak tak langsung neto. Untuk sektor pemerintahan dan
usaha-usaha yang sifatnya tidak mencari untung, surplus usaha antara lain bunga neto,
sewa tanah dan keuntungan tidak diperhitungkan.
2.2.3 Pendekatan Pengeluaran (Expenditure Approach)
Pendekatan
ini digunakan untuk menghitung nilai barang dan jasa yang digunakan oleh berbagai
golongan dalam masyarakat untuk keperluan konsumsi rumah tangga,pemerintah dan
yayasan sosial, pembentukan modal, dan ekspor. Mengingat
nilai barangdan jasa hanya berasal dari produksi domestik, total pengeluaran
dari komponen-komponen di atas harus dikurangi nilai impor sehingga nilai
ekspor yang dimaksud adalahekspor neto. Penjumlahan seluruh komponen pengeluaran
akhir ini disebut PDRB atasdasar harga pasar.
2.2.4 Metode Alokasi (Alocation Method)
Metode ini digunakan jika data suatu unit
produksi di suatu daerah tidak tersedia. Nilai tambah suatu unit produksi di
daerah tersebut dihitung dengan menggunakan data yang telah dialokasikan dari
sumber yang tingkatannya lebih tinggi, misalnya data suatu kabupaten diperoleh
dari alokasi data provinsi. Beberapa alokator yang dapat digunakan adalah
nilai produksi bruto atau neto, jumlah produksi fisik, tenaga kerja, penduduk,
dan alokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai suatu unit
produksi.
Metode AlokasiMetode ini digunakan jika
data suatu unit produksi di suatu daerah tidak tersedia. Nilaitambah suatu unit
produksi di daerah tersebut dihitung dengan menggunakan data yangtelah
dialokasikan dari sumber yang tingkatannya lebih tinggi, misalnya data
suatukabupaten diperoleh dari alokasi data provinsi. Beberapa alokator yang
dapat digunakanadalah nilai produksi bruto atau neto, jumlah produksi fisik, tenaga
kerja, penduduk, danalokator lainnya yang dianggap cocok untuk menghitung nilai
suatu unit produksi
2.3. Cara Penilaian Harga Konstan
2.3.1 Penyajian Atas Dasar Harga Konstan
Salah satu kegunaan
Pendapatan Regional menurut penggunaan ialah untuk melihat perkembangan
penggunaan PDRB dari tahun ke tahun. Karena adanya pengaruh inflasi, maka daya
beli uang akan mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Berkaitan dengan hal
tersebut apakah kenaikan pendapatan seseorang benar-benar naik atau tidak maka faktor
inflasi initer lebih dahulu harus dieliminir dari pendapatan. Setelah faktor
inflasi dieliminir, maka pendapatan yang dihasilkan akan merupakan pendapatan
yang riil (real income), hingga naik
turunnya pendapatan riil ini akan mencerminkan naik turunnya daya beli.
Pendapatan Regional yang
masih mengandung faktor inflasi disebut pendapatan regional atas dasar harga
yang berlaku (at current prices).
Apabila faktor inflasi sudah dieliminir, pandapatan regional disebut pendapatan
regional atas dasar harga konstan (at
constant prices). Untuk mendapatkan nilai atas dasar harga konstan, ada
tiga metode dasar yang dapat dipakai yaitu :
1.
Revaluasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengalikan kuantum produksi
pada tahun yang bersangkutan dengan harga pada tahun dasar. Begitu juga
biaya-biaya antara dinilai dengan memakai harga pada tahun dasar pula. Dalam
praktek, sangat sulit melakukan revaluasi terhadap biaya antara yang digunakan,
karena mencakup komponen biaya antara yangsangat banyak, di samping data harga
yang tersedia tidak dapat memenuhi semua keperluan tersebut. Oleh karena itu,
biaya antara atas dasar harga konstan biasanya diperoleh dari perkalian antara
output atas dasar harga konstan masing-masing tahun dengan rasio tetap pada
biaya antara terhadap output pada tahun dasar.
2.
Ekstrapolasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mengekstrapolasikan nilai
tambah pada tahun dasar dengan menggunakan indeks kuantum dari barang-barang
produksi yang bersangkutan. Bila terdapat kesulitan dalam memperoleh indeks
kuantum dapat dipakai indikator lain yang ada hubungannya dengan indeks kuantum
produksi itu, misalnya indeks tenaga kerja di bidang itu, indeks kuantum dari
input yang dipakai, dan sebagainya. Ekstrapolasi dapat juga dilakukan terhadap
output atas dasarharga konstan, kemudian dengan menggunakan rasio tetap nilai
tambah terhadap output akan diperoleh perkiraan nilai tambah atas dasar harga
konstan.
3.
Deflasi
Nilai atas dasar harga konstan diperoleh dengan mendeflasikan nilai tambah
atas dasar harga yang berlaku dengan indeks harga dari barang-barang yang
bersangkutan. Indeks harga di sini dapat dipakai indeks harga perdagangan
besar, harga produsen maupun harga eceran tergantung mana yang lebih sesuai.
Perkiraan nilai tambah PDRB penggunaan atas dasar harga konstan biasanya
diperoleh dengan cara mendeflasikan nilai tambah atas dasar harga berlaku
dengan indeks harga yang sesuai. Misalnya indeks harga yang sesuai untuk
masing-masing komponen tersebut adalah indeks harga konsumen untuk konsumsi
rumah tangga, indeks harga perdagangan besar untuk konsumsi pemerintah dan
perdagangan antar daerah, dan indeks harga perdagangan besar barang-barang
investasi untuk pembentukan modal tetap bruto.
4. Deflasi
Berganda
2.4. Manfaat Statistik Pendapatan Regional
PDRB yang disajikan secara berkala dapat
menggambarkan perkembangan ekonomi suatu daerah dan juga dapat digunakan
sebagai bahan acuan dalam mengevaluasi dan merencanakan pembangunan regional. PDRB atas
dasar harga konstan menggambarkan tingkat pertumbuhan perekonomian suatu daerah
baik secara agregat maupun sektoral. Struktur perekonomian suatu daerah dapat
dilihat dari distribusi masing-masing sektor ekonomi terhadap total nilai PDRB
atas dasar harga berlaku.
Selain itu, pendapatan per kapita yang
diperoleh dari perbandingan PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah
penduduk pada tahun bersangkutan dapat digunakan untuk membanding tingkat
kemakmuran suatu daerah dengan daerah lainnya. Perbandingan PDRB atas dasar
harga berlaku terhadap PDRB atas dasar harga konstan dapat juga digunakan untuk
melihat tingkat inflasi atau deflasi yang terjadi. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa Pendapatan Regional yang disajikan secara berkala akan dapat
diketahui:
a. Tingkat pertumbuhan ekonomi
b. Gambaran struktur perekonomian
c. Perkembangan pendapatan per kapita
d. Tingkat kemakmuran masyarakat
e. Tingkat inflasi dan deflasi
Statistik pendapatan regional yang
disajikan dengan baik dan lengkap akan dapat menggambarkan berbagai fenomena antara lain :
1.
Produk domestik regional
bruto yang disajikan atas dasar harga konstan, akan menggambarkan tingkat
pertumbuhan riil perekonomian suatu
daerah baik secara agregat maupun sektoral.
2.
Pertumbuhan
perekonomian yang timbul tersebut apabila dibandingkan dengan jumlah penduduk
masing-masing tahun, maka akan dapat pula mencerminkan tingkat
perkembangan pendapatan per kapita.
Jika pendapatan
per kapita
suatu daerah dibandingkan dengan pendapatan per kapita daerah lain,
maka angka-angka tersebut dapat dipakai sebagai indikator untuk membandingkan
tingkat kemakmuran material dengan daerah lainnya.
3.
Penyajian Produk
Domestik Regional Bruto baik atas dasar harga berlaku maupun atas
dasar harga konstan, juga dapat digunakan sebagai indikator untuk melihat
inflasi ataupun deflasi yang terjadi. Demikian pula apabila disajikan
secara sektoral akan dapat juga memberi gambaran tentang
struktur perekonomian suatu daerah. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
Pendapatan Regional yang
disajikan secara berkala, wajar, dan komprehensif akan diketahui :
a)
Indikator tingkat
pertumbuhan perekonomian.
b)
Indikator tingkat
perkembangan pendapatan per kapita.
c)
Indikator tingkat
kemakmuran masyarakat.
d)
Indikator tingkat
inflasi dan deflasi.
Indikator dari struktur perekonomian suatu
daerah.Lebih khusus untuk penyajian PDRB dari sisi penggunaan akan diketahui :
a)
Besarnya pendapatan
(nilai tambah) suatu wilayah yang dibelanjakankembali dalam perekonomian
wilayah tersebut.
b)
Besarnya pendapatan (nilai
tambah) suatu wilayah yang diinvestasikankembali dalam perekonomian wilayah
tersebut.
c)
Besarnya pembiayaan
transaksi antar wilayah dan antar negara.
d)
Tingkat persediaan
barang setengah jadi maupun barang jadi yangdikuasai oleh berbagai pelaku
ekonomi produksi maupun konsumsi.
BAB III
GAMBARAN UMUM KABUPATEN ROKAN HULU
3.1. Aspek Fisik
Informasi dari aspek fisik Kabupaten Rokan Hulu sebagai berikut :
3.1.1 Luas dan Letak Wilayah
Luas dan batas wilayah, Kabupaten Rokan Hulu dengan luas wilayah 7.449.85
km². Secara administratif Kabupaten Rokan Hulu terbagi menjadi 16 Kecamatan. 16 Kecamatan itu yaitu : Bangun Purba, Kabun, Kepenuhan, Kunto
Darussalam, Rambah, Rambah Hilir, Rambah Samo, Rokan IV Kto, Tambusai, Tambusai
Utara, Tandun, Ujung Batu, Pagaran Tapah Darussalam, Bonai Darussalam,
Kepenuhan Hulu, Pendalian IV Koto,
Letak dan kondisi
geografis dari Kabupaten
Rokan Hulu memiliki posisi astronomi di antara garis 00°25'20
- 010°25'41 Lintang Utara
1000°02'56 - 1000°56'59 Bujur Timur. Adapun batas wilayah administratif Kabupaten Rokan Hulu adalah sebagai berikut :
1000°02'56 - 1000°56'59 Bujur Timur. Adapun batas wilayah administratif Kabupaten Rokan Hulu adalah sebagai berikut :
Barat :
Kabupaten Pasaman
dan Kabupaten Pasaman Barat
Timur :
Kabupaten Bengkalis
dan Kabupaten Rokan Hilir
Selatan : Kabupaten Kampar
Utara :
Kabupaten
Padang Lawar Utara dan Kabupaten Labuhan Batu
Di kabupaten Rokan Hulu terdapat beberapa
sungai, 2
diantaranya adalah sungai yang cukup besar yaitu Sungai Rokan Kanan dan
Sungai Rokan
Kiri. Selain sungai besar tersebut, terdapat juga sungai-sungai kecil antara
lain Sungai Tapung, Sungai Dantau, Sungai Ngaso, Sungai Batang Lubuh, Sungai
Batang Sosa, Sungai Batang Kumu, Sungai Duo (Langkut), dan lain-lain.
3.1.2 Keadaan Alam
Kabupaten
Rokan Hulu memiliki wilayah yang terdiri dari 85% daratan dan 15% daerah
perairan dan rawa. Kabupaten yang ber ibukotakan Pasir Pengaraian ini, berada
pada jalan Negara Provinsi Riau- Sumatera Utara, tepatnya jalan Pekanbaru
– Padang Lawas Sumatera Utara, yang berjarak lebih kurang 180 Km dari
Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Daerah ini berada pada ketinggian 70 – 80
meter dari permukaan laut. Disebelah barat Kabupaten mempunyai kontur tanah
yang bergelombang ini merupakan bagian pegunungan Bukit Barisan ( 15 % )
sedangkan sebagian besar lainnya ( 85 % ) merupakan dataran rendah yang subur.
Di daerah ini terdapat 3 ( tiga ) buah sungai besar yaitu Rokan Kiri, Rokan
Kanan dan Sungai Sosah.
Kabupaten Rokan Hulu tergolong daerah
beriklim tropis dengan tempratur udara berkisar antara 22° - 31° C, terdapat
dua musim yaitu musim hujan dan musim kemarau. Sedangkan dilihat dari sisi
Penduduknya, kabupaten ini, merupakan masyarakat heterogen yang terdiri
dari bermacam suku dan ragam budaya, sebagian besar suku yang ada di
Rokan Hulu adalah Suku Jawa (eks transmigrasi tahun 1980), melayu dan
mandailing sebagai penduduk asal, di lengkapi dengan suku minang, sunda, batak
dan nias.Selain itu di Rokan Hulu terdapat masyarakat terasing yaitu suku
Bonai dan suku sakai, yang merupakan asli Rokan Hulu.
3.2. Kependudukan
Jumlah penduduk kabupaten Rokan Hulu pada
tahun 2010 adalah 475.011 jiwa. Mayoritas penduduk asli kabupaten Rokan Hulu
adalah termasuk salah satu bagian dari Rumpun Minangkabau. Menurut sejarahnya,
dahulu daerah Rokan Hulu disebut Rantau Rokan atau Luhak Rokan Hulu karena
merupakan daerah perantauan orang-orang Minangkabau pada masa lalu (Rantau nan
Tigo Jurai). Pada masa itu diistilahkan sebagai ‘Rantau Nan Tigo Kabuang Aie’
yakni Rantau Timur Minangkabau di sekitar Kampar dan Kuantan sekarang.
Daerah-daerah tersebut meliputi daerah alur sungai menuju hilir dari
sungai-sungai besar yang mengalir ke Pesisir Timur. Diantaranya adalah Sungai
Rokan, Kampar dan Inderagiri (Kuantan), yang kini kesemuanya masuk di dalam
Provinsi Riau. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Rokan Hulu menggunakan
adat istiadat dan bahasa Minangkabau. Utamanya mirip dengan daerah Rao dan Pasaman
di Provinsi Sumatera Barat dengan Persukuan, Molayu/Melayu,
Kandang Kopuah, Bonuo, Ampu, Pungkuik, Moniliang/Mandahiliang,
Kuti,
Caniago, Piliang, Domo, Potopang/Petopang,
Maih, Soborang, Anak Rajo-rajo, Non Soatuih, Non Limo Puluh, Molayu Tigo Induk,
Molayu Panjang, Molayu Tongah, Ompek Induk, Molayu Bosa, Bono Ampu, Molayu
Ompek Induk, Molayu Pokomo, Piliang Kecil, Domo Kecil, Molayu Kecil, Molayu
Bawah, Molayu Bukik, Aliantan, Suku Tengku Panglimo Bosa, Suku Maharajo Rokan,
Suku Tengku Bosa, Suku Maharajo, dan Bendang.
Di sekitar daerah perbatasan bagian Timur
dan Tenggara, bermukim pula sedikit Suku Melayu yang memiliki adat istiadat dan
bahasa daerah mirip dengan tetangganya di Rokan Hilir dan Bengkalis. Namun di
sekitar Rokan Hulu sebelah Utara dan Barat Daya, ditemukan penduduk asli yang
memiliki kedekatan sejarah dengan etnis Rumpun Batak di daerah Padang Lawas di
Provinsi Sumatera Utara. Mereka telah mengalami proses Melayunisasi sejak
berabad yang lampau, dan tidak banyak meninggalkan jejak sejarah untuk
ditelusuri. Mereka umumnya mengaku sebagai orang Melayu.
Selain itu juga banyak penduduk bersuku Jawa
yang datang lewat program transmigrasi nasional sejak masa kemerdekaan maupun
keturunan para perambah hutan asal Jawa yang masuk pada masa penjajahan lewat
Sumatera Timur. Mereka tersebar di seluruh wilayah Rokan Hulu, terutama di
sentra-sentra lokasi transmigrasi dan juga di areal perkebunan sebagai tenaga
buruh. Juga banyak bermukim para pendatang asal Sumatera Utara bersuku Batak
yang umumnya bekerja di sektor jasa informal dan perkebunan. Di daerah-daerah
perniagaan ditemukan banyak penduduk pendatang bersuku Minangkabau asal
Sumatera Barat yang umumnya bekerja sebagai pedagang. Selain itu juga didapati
berbagai etnis Indonesia lainnya yang masuk kemudian sebagai pendatang. Pada
umumnya mereka bekerja sebagai buruh pada sektor perkebunan.
BAB IV
ANALISIS EKONOMI KABUPATEN ROKAN HULU
4.1. Perkembangan Total PRDB Kabupaten Rokan Hulu
PDRB adalah salah satu indikator untuk
melihat keberhasilan pembangunan ekonomi. PDRB merupakan hasil penjumlahan
nilai tambah bruto yang dihasilkan oleh unit-unit kegiatan ekonomi dalam suatu
wilayah pada suatu periode waktu tertentu biasanya satu tahun. Dalam kurun
waktu 2004-2013 PDRB Kabupaten Rokan Hulu tetap beranjak naik. Untuk mengetahui
Perkembangan PDRB Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2004-2013 dapat dilihat sebagai
berikut :
Tabel IV.1
Produk Domestik Regional
Bruto Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2005-2009
|
Tahun
|
PDRB
|
persentase
|
|
2004
|
2,051,635.4
|
7.96 %
|
|
2005
|
2,108,279.1
|
8.18 %
|
|
2006
|
2,257,614.3
|
8.76 %
|
|
2007
|
2,271,851.1
|
8.81 %
|
|
2008
|
2,426,330.4
|
9.41 %
|
|
2009
|
2,570,658.4
|
9.97 %
|
|
2010
|
2,706,742.4
|
10.50 %
|
|
2011
|
2,948,658.9
|
11.44 %
|
|
2012
|
3,120,525.5
|
12.10 %
|
|
2013
|
3,323,170.1
|
12.89 %
|
|
total
|
25,785,465.7
|
100.00 %
|
PDRB Kabupaten Rokan Hulu setiap tahunnya mengalami peningkatan,
pada tahun 2004 atas dasar harga konstan yaitu Rp2,051,635.4 dengan persentase
7.96% dan pada tahun 2005 mengalami kenaikan sebesar 2,108,279.1 atau 8.18%. Peningkatan
ini terjadi pada tiap tahun sampai pada tahun 2013 yaitu Rp3,323,170,1 atau
sebesar 12,89%.
Gambar 4.1
Perkembangan Total PDRB Kabupaten Rokan Hulu
Berdasarkan pada gambar di atas,
menjelaskan bahwa perkembangan total PDRB Kabupaten Rokan Hulu dari tahun 2004
sampai tahun 2013 terus meningkat. Hal ini membuktikan bahwa pertumbuhan
ekonomi mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Perkembangan total PDRB
Kabupaten Rokan Hulu ini tidak terlepas dengan adanya peningkatan PDRB di
masing-masing sektor.
4.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi
Pertumbuhan
ekonomi disamping dapat berdampak peningkatan pendapatan pada akhirnya juga
akan berpengaruh pada pendapatan daerah. Semakin mampu menggali potensi
perekonomian daerah yang ada, akan semakin besar Produk Domestik Regional Bruto
dan Pendapatan Asli Daerah, sehingga mampu meningkatkan keuangan daerah dalam
menunjang pelaksanaan otonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi merupakan suatu
gambaran mengenai dampak dari kebijaksanaan pembangunan yang telah diambil
khususnya dalam bidang ekonomi. Bagi setiap daerah, indikator ini penting untuk
mengetahui keberhasilan pembangunan yang telah dicapai, dan berguna sebagai
bahan untuk menentukan kebijaksanaan dan arah pembangunan dimasa yang akan
datang. Pertumbuhan tersebut merupakan laju pertumbuhan yang dibentuk dari
berbagai sektor ekonomi, yang secara tidak langsung menggambarkan tingkat
perubahan ekonomi yang terjadi. Untuk mengetahui Laju Pertumbuhan Ekonomi
Kabupaten Rokan Hulu dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel IV.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi
Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2004-2013
|
Tahun
|
pertumbuhan ekonomi
|
|
2004
|
2%
|
|
2005
|
3%
|
|
2006
|
7%
|
|
2007
|
1%
|
|
2008
|
6%
|
|
2009
|
6%
|
|
2010
|
5%
|
|
2011
|
8%
|
|
2012
|
6%
|
|
2013
|
6%
|
Gambar 4.2
Laju Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu
Dapat dilihat dari tabel maupun
gambar yang ada di atas bahwa, laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Rokan Hulu
mengalami kenaikan dan penurunan. Pada tahun 2004 sampai 2006 laju pertumbuha
ekonomi meningkat. Namun, pada tahun 2007 laju pertumbuhan ekonomi menurun
tajam mencapai 0,6%. Hal ini disebabkan karena pada tahun 2007, PDRBnya hanya
mengalami kenaikan yang kecil dari tahun 2006, ini terjadi pada semua sektor di
tahun 2007, sehingga diperoleh selisih PDRB yang kecil. Pada tahun 2008
mengalami peningkatan menjadi 6,4%, lalu pada tahun 2009 dan tahun 2010 turun
lagi menjadi 5%. Pada tahun 2011 laju
pertumbuhan ekonomi mengalami penaikan puncaknya yaitu 8,2%. Kemudian di tahun
2012 turun 5,5% dan naik lagi 6,1% ditahun 2013.
3.1.3 Struktur Ekonomi Atas Dasar Konstan Kabupaten Rokan Hulu
Untuk mengetahui Struktur Ekonomi Kabupaten Rokan Hulu Dasar Harga
Konstan tahun 2004-2013 dapat dilihat sebagai berikut:
Tabel IV.3
Struktur Ekonomi Kabupaten
Rokan hulu Atas Dasar Harga Konstan tahun 2004-2009
|
Sektor
|
2004
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
2009
|
2010
|
2011
|
2012
|
2013
|
|
Pertanian
|
51.33
|
52.58
|
53.54
|
53.2
|
52.78
|
52.5
|
52.65
|
51.58
|
51.7
|
48.5
|
|
Pertambangan dan penggalian
|
8.75
|
8.52
|
7.95
|
7.9
|
7.7
|
7.37
|
6.12
|
7.3
|
5.86
|
6.64
|
|
Industri pengolahan
|
19.96
|
19.48
|
18.2
|
18.26
|
18.25
|
18.35
|
18.51
|
18.59
|
19.34
|
21.3
|
|
Listrik, Gas dan Air minum
|
0.06
|
0.06
|
0.06
|
0.06
|
0.06
|
0.06
|
0.06
|
0.05
|
0.05
|
0.06
|
|
Bangunan
|
3.56
|
3.46
|
3.5
|
3.48
|
3.76
|
3.85
|
4.34
|
4.2
|
4.28
|
4.19
|
|
Perdagana , Hotel dan Restoran
|
5.37
|
5.23
|
4.99
|
4.97
|
4.99
|
5.1
|
5.24
|
5.16
|
5.36
|
5.37
|
|
Pengangkutan dan Komunikasi
|
2.5
|
2.43
|
2.28
|
2.61
|
2.67
|
2.73
|
2.82
|
2.88
|
2.86
|
2.77
|
|
Keuangan, Persewaan dan Jasa
|
1.63
|
1.58
|
1.49
|
1.49
|
1.52
|
1.56
|
1.6
|
1.63
|
1.7
|
2.09
|
|
Jasa-jasa
|
6.84
|
6.66
|
7.99
|
8.03
|
8.27
|
8.48
|
8.66
|
8.61
|
8.85
|
9.02
|
|
PDRB
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
100
|
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2004
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada tahun 2004 yang paling besar adalah
pertanian sebesar 51.% dan struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2005
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2006 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2006
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan,
hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten
Rokan Hulu pada pada tahun 2006 yang paling besar adalah pertanian yaitu 54%
dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil
adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2007
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2007 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2008
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2008 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2009
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan, perdagangan,
hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewaan, dan jasa
perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar harga konstan Kabupaten
Rokan Hulu pada pada tahun 2009 yang paling besar adalah pertanian yaitu 53%
dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten Rokan Hulu yang paling kecil
adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2010
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2009 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 53% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.06%
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2011
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2011 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 51% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2012
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2012 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 52% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Struktur Ekonomi Atas Dasar harga Konstan Tahun 2013
Pada gambar di
atas menjelaskan bahwa struktur ekonomi terdiri dari pertanian, pertambangan
dan penggalian, industri pengolahan, listrik,gas, dan air minum, bangunan,
perdagangan, hotel, dan restoran, pengangkutan dan komunikasi, keuangan,
persewaan, dan jasa perusahaan, dan jasa-jasa. Struktur ekonomi atas dasar
harga konstan Kabupaten Rokan Hulu pada pada tahun 2013 yang paling besar
adalah pertanian yaitu 52% dan struktur ekonomi atas dasar harga Kabupaten
Rokan Hulu yang paling kecil adalah listrik, gas dan air minum sebesar 0.05%.
Sektor Ekonomi
Atas Dasar Harga Konstan Kabupaten Rokan Hulu Tahun 2003 sampai 2013, sektor
yang perannya meningkat paling besar adalah pertanian dan yang perannya paling
kecil adalah sektor listrik, gas dan air
minum.
4.3. Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu
PDRB perkapita merupakan gambaran nilai
tambah bruto yang dihasilkan oleh masing–masing penduduk akibat dari adanya
aktivitas ekonomi. Nilainya diperoleh dari PDRB dibagi dengan jumlah penduduk
pertengahan tahun. Sedang pendapatan perkapita merupakan gambaran rata–rata
pendapatan yang diterima oleh masing–masing penduduk karena andilnya dalam
proses produksi. Nilai pendapatan perkapita ini diperoleh dengan cara membagi
pendapatan regional (nilai PDRB yang telah dikurangi dengan penyusutan dan
pajak tak langsung) dengan jumlah penduduk pertengahan tahun. Kedua indikator
ini digunakan untuk mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu daerah dalam
periode tahun tertentu. Walaupun nilai PDRB perkapita dan pendapatan perkapita
dapat dijadikan ukuran kemakmuran suatu daerah, akan tetapi data tersebut tidak
dapat digunakan untuk mengukur tingkat pemerataan pendapatan karena pada
dasarnya pemilik pendapatan tersebut adalah mereka yang memiliki faktor
produksi. Untuk mengetahui Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu
dari tahun 2004 sampai 2013 dapat dilihat sebagai berikut:
Perkembangan Pendapatan Perkapita Kabupaten Rokan Hulu
dari tahun 2004-2012
|
Tahun
|
PDRB
|
Penduduk
|
pendapatan perkapita
|
|
2004
|
2,051,635.35
|
398,720
|
5.15
|
|
2005
|
2,108,279.08
|
401,425
|
5.25
|
|
2006
|
2,257,614.32
|
406,302
|
5.56
|
|
2007
|
2,271,851.09
|
428,719
|
5.30
|
|
2008
|
2,426,330.44
|
452,251
|
5.37
|
|
2009
|
2,570,658.39
|
474,457
|
5.42
|
|
2010
|
2,706,742.43
|
501,584
|
5.40
|
|
2011
|
2,948,658.93
|
507,079
|
5.81
|
|
2012
|
3,120,525.54
|
523,024
|
5.97
|
|
2013
|
3,323,170.13
|
545,483
|
6.09
|
Pendapatan per kapita atas dasar harga berlaku dari tahun ke tahun
menunjukkan peningkatan, Bila pada tahun 2004 adalah sebesar 5.15 dan pada
tahun 2013 mencapai 6.09
Dari
grafik diatas dapat disimpulkan bahwa pendapatan perkapita sejajar dengan PDRB
suatu daerah. Jadi jika PDRB naik pendapatan perkapita juga naik, dan jika PDRB
turun maka pendapatan perkapita juga turun.
BAB V
PENUTUP
5.1. Kesimpulan
PDRB merupakan salah satu
indikator untuk menunjukkan tingkat keberhasilan pembangunan ekonomi pada suatu kawasan atau daerah. Pada dasarnya dengan mengetahui laju pertumbuhan
penduduk, struktur ekonomi, dan pendapatan perkapita penduduk juga mampu
memprediksi dan mengetahui PDRB suatu wilayah..
Berdasarkan hasil data PDRB Kabupaten Rokan Hulu
2004 Produk Domestik Regional Bruto terus mengalami peningkatan. Nilai yang ditunjukkan adalah dari tahun 2004 sebesar Rp 2,051,635.35 dan pada tahun 2013 meningkat menjadi Rp 3,323,170.13
. Hal ini menunjukkan bahwa Kabupaten Rokan Hulu mengalami
peningkatan pertumbuhan ekonomi yang cukup berarti selama jangka waktu 10tahun.
Sektor ekonomi di Kabupaten Rokan Hulu yaitu sektor perekonomian merupakan
sektor yang paling besar dalam menyumbangkan nilai PDRB.. Sektor pertanian
dari tahun 2003 sampai 2014 yang paling besar perannya adalah pada tahun 2005.
Secara keseluruhan kinerja perekonomian Kabupaten Rokan Hulu semakin meningkat
dari tahun ke tahun. Hal ini antara lain dapat dilihat dari pendapatan domestik
regional bruto Kabupaten Rokan Hulu baik atas dasar harga yang berlaku maupun
atas dasar harga konstan 2003 yang makin meningkat dari tahun ke tahun.
5.2. Saran
Berdasarkan hasil analisis dan
kesimpulan didapatkan beberapa saran yang diperuntukan untuk ke depannya Kabupaten Rokan Hulu,
yaitu antara lain dalam meningkatkan pertumbuhan
perekonomian Kabupaten Rokan Hulu, perlu memperhatikan dan mengembangkan sektor dan struktur ekonomi lainnya
yang dapat lebih memunculkan potensi-potensi daerahnya sehingga dapat
memperkuat PDRB Kabupaten Rokan Hulu. Misalnya, Kabupaten Rokan Hulu hanya menonjol pada sektor pertanian. Seharusnya sektor ekonomi industri dan sektor-sektor lain juga perlu lebih dioptimalkan lagi
guna meningkatkan laju pertumbuhan penduduk. Sehingga PDRB Kabupaten Rokan Hulu dapat juga meningkat.
Selain itu Pemerintah
Daerah hendaknya lebih mengoptimalkan sektor-sektor perekonomian di Kabupaten Rokan Hulu yang mengalami penyusutan, penurunan, dan kurang
berkembang, agar dapat memperkuat PDRBnya. Sehingga perlunya koordinasi dan
kerjasama yang sinergis antara Pemerintah Daerah dengan masyarakat Kabupaten Rokan Hulu untuk lebih meningkatkan perkembangan
PDRB dan laju pertumbuhan ekonomi.
DAFTAR PUSTAKA.
Badan Pusat Statistik. 2010. Kota Semarang dalam Angka 2010. Semarang.
BAPPEDA. 2010. “Pekanbaru dalam Angka 2010,” dalam
website bappeda. http://bappeda.pekanbaru.go.id/artikel/9/mengapa-pdrb-/page/1/2010. Diunduh
Selasa, 3 Juli 2012.
Master Plan
Transportasi Laut. 2011. “Proposal Teknis Penyusunan Masterplan Transportasi Laut
Provinsi Kepulauan Riau.” Proposal Master Plan Kepulauan Riau.